Oleh
Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid Al-Halabi
Adapun pada abad-abad pertengahan, (sebagaimana yang sudah saya katakan), dalam waktu yang singkat ini saya tidak bisa menyebutkan setiap ulama untuk setiap abad. Saya hanya akan menyebutkan orang-orang yang memiliki tanda-tanda yang menonjol.
Kami menyebutkan pada abad-abad pertengahan, pada abad ke delapan, Syaikhul Islam, seorang ulama besar, seorang imam, Abul Abbas, Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam, Ibnu Taimiyah, An-Numairi, Ad-Dimasyki, Al-Harani semoga Allah memberi rahmat kepadanya-. Beliau telah menulis kitab-kitab, menyusun tulisan-tulisan, menempatkan kaidah-kaidah, dan menjawab masalah-masalah.
Demi Allah, demi Allah dan demi Allah hampir saya bersumpah secara khusus, bahwasanya tidak ada syubhat yang kamu hadapi di masa-masa ini. Setelah delapan abad dari kematian Imam ini, wahai saudaraku yang mendapatkan taufik, di dalam masalah aqidah dan agama yang termasuk masalah-masalah ahli bid'ah lalu kamu mencarinya di dalam kitab-kitabnya, kamu teliti di dalam tulisan-tulisannya dan risalah-risalahnya, atau fatwa-fatwa dan jawaban-jawabannya, maka kamu akan mendapatkan jawabannya. Jika kamu tidak mendapatkannya, maka hal itu disebabkan ketidak mampuan dalam mencarinya, bukan karena Ibnu Taimiyah tidak menyebutkan jawaban. Masalah ini saya harapkan agar dipahami secara baik. Sehingga nampak kemampuan Imam ini, kekuatan ilmunya, keluasan akalnya, kegeniusan otaknya semoga Allah memberi rahmat kepadanya.
Apabila kamu ingin tahu kedudukan Ibnu Taimiyyah, maka ketahuilah bahwa Ibnul Qayyim adalah muridnya. Apabila kamu ingin tahu ukuran kegeniusan yang diberikan oleh Allah kepada Ibnu Taimiyah, maka ketahuilah bahwa Imam Ibnu Katsir termasuk muridnya. Daftar nama-nama muridnya akan menjadi panjang dengan menyebutkan : Al-Mizzi, Ibnu Rajab, Ibnu Abdul Hadi, yang termasuk murid-muridnya atau murid-murid sahabat-sahabatnya dari kalangan imam-imam besar yang memenuhi sejarah Islam. Saya tidak hanya mengatakan, mereka memenuhi perpustakaan Islam saja. Bahkan mereka memenuhi sejarah Islam dengan kesungguhan, perjuangan, ilmu, akhlaq, adab, tingkah laku mereka dan banyak lagi hal-hal lainnya.
Imam Ibnu Taimiyah juga pada masanya, dia hidup pada masa bergelombangnya fitnah-fitnah dan tersebarnya ujian-ujian. Mulai fitnah Tartar sampai fitnah Rawafidh, juga fitnah tersebarnya madzhab Asyariyah yang menyimpang dan lain-lainnya. Dia turun di setiap medan bagai tentara berkuda yang besar dengan membawa pedang, pena, dan mata lembing. Dia menulis, berjihad, dan membela. Dia diperdaya, dimusuhi, dan bersabar. Hingga pada suatu saat dia mendapat kehormatan dari sebagian sulthan (penguasa). Sulthan tersebut datang kepada Ibnu Taimiyah dengan membawa musuh-musuhnya yang memfitnah tentang dirinya, memenjara, menyakiti, mengusir dan mendzaliminya. Sulthan berkata kepadanya : Apa yang akan kamu lakukan kepada mereka ? Dia menjawab : Saya memberi maaf kepada mereka. Maka mereka kagum kepadanya. Mereka berkata : Wahai Ibnu Taimiyah, kami mendzalimimu dan kamu mampu untuk membalasnya, tetapi kamu memberikan maaf? Dia menjawab : Ini adalah akhlak orang-orang beriman. Memang, akhlak ini tidak dimilki kecuali oleh orang-orang istimewa saja. Yaitu, kamu memberi maaf, padahal kamu pada posisi yang tinggi, terlebih-lebih setelah banyak didzalimi oleh orang yang diberi maaf. Oleh karena itu, apabila kita membaca sejarah, kita tidak mendengar seorang yang namanya Bakri dan Akhna�i kecuali karena Ibnu Taimiyah telah membantah keduanya. Nama Ibnu Taimiyah selalu naik dan melambung sebagaimana firman Allah.
Artinya : Dan kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu?[Alam Nashrah : 4]
Imam Ibnul Qayyim berkata tentang ayat ini : Sesungguuhnya setiap orang yang menolong sunnah, meninggikan sunnah dan mendukung Ahlus Sunnah, dia mendapatkan bagian dari firman Allah Dan kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu? [Alam Nashrah : 4] Setiap orang yang merusak sunnah dan menentang Ahlus Sunnah, dia mendapatkan bagian dari firman Alllah.
Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu, dialah yang terputus [Al-Kautsar : 3]
Mereka (musuh-musuh sunnah) itu terputus. Sedangkan mereka (penolong-penolong sunnah) mendapatkan pertolongan dan derajat ketinggian.
Lihatlah anjuran dan jihad Ibnu Taimiyah terhadap bangsa Tartar dalam peperangan Syaqhab. Ada orang yang berkata : Sesungguhnya kami pasti akan menang!. Maka Ibnu Taimiyah berkata kepadanya : Katakanlah insya Allah!. Dia berkata : Saya mengatakan insya Allah sebagai perwujudan bukan penundaan. Karena dia percaya kepada pertolongan Allah. Merasa tenang dengan taufik dari Allah, dan bertawakal kepada Allah, maka Allah mencukupinya.
Inilah Ibnu Taimiyah. Dia telah menulis bantahan kepada Asyariyah dan Mutakallimin (ahli filsafat) dalam kitab-kitab yang besar. Diantaranya, kitab bantahan kepada Fakhruddin Ar-Razi yang telah membangun madzhabnya yang menyimpang dalam sebuah kitab, yang dinamakan dengan At-Tasis. Ibnu Taimiyah menulis bantahan kepadanya sebanyak 4 jilid. Kitab yang dibantah tersebut sekitar kurang lebih seratus halaman. Dibantah oleh Ibnu Taimiyah dengan kitab sebanyak 4 jilid. Berisi tentang penjelasan kesesatan Jahmiyah dan pembongkaran dasar-dasar bidah halamiyah (filsafat). Kitab tersebut, dua jilid besar telah dicetak dan selebihnya insya Allah akan dicetak dalam waktu dekat.
Dia juga menulis bantahan kepada Al-Amidi, Al-Ghazali, dan lain-lainnya dalam sebuah kitab yang besar sekali yang diberi nama Daru Taarudil Aql wan Naql. Kitab tersebut punya nama lain. Kedua nama tersebut adalah nama satu kitab. Sebagian orang menyangka dua nama kitab itu untuk dua kitab. Yaitu kitab Muwafaqatu Shahihil Manqul li Shahihi Maqul yang di tulis untuk membantah kelompok di atas.
Dia juga menulis bantahan kepada kelompok Syiah yang buruk, dengan sebuah kitab yag diberi nama Minhajus Sunnah Nabawiyah fi Naqdi Kalamisy Syiatil Qadariyah Dia menulis 10 jilid sebagai bantahan kepada salah satu pembesar mereka yang bernama Al-Muthahhar Al-Hilli atas kitabnya yang berjudul Minhajul Karomah. Dia membantahnya dalam 10 jilid.
Kelompok Syiah sudah dikenal sebagai musuh bebuyutan. Mereka selalu mencari kesalahan apa saja yang dilihatnya, kecuali Ibnu Taimiyah. Bahkan sampai sekarang mereka tidak bisa membantah dan menjawab hujjah-hujjah dan dalil-dalilnya. Oleh karena itu kamu melihat mereka diam, membisu, tidak mau berbicara. Kitab tersebut masih tetap dicetak, diterbitkan, bahkan diterjemahkan dan dipelajari. Di hadapan kitab tersebut tidak bisa bergerak. Inilah Ibnu Taimiyah, seorang imam yang merupakan ulama terbesar bagi dawah yang agung dan penuh berkah ini.
Dengan melihat sejarah dan riwayat hidupnya, akan didapatkan banyak hal tentang Ibnu Taimiyah. Tetapi yang terlintas secara khusus dalam diri adalah suatu hal, yaitu bahwa Ibnu Taimiyah meninggal dunia di dalam penjara karena tipu daya dan di fitnah oleh musuh-musuhnya di hadapan Sulthan (penguasa). Meskipun demikian, ahli sejarah mengatakan tatkala Ibnu Taimiyah meninggal dunia di dalam penjara dan dikeluarkan jenazahnya, maka semua penduduk Damaskus keluar, kecuali empat orang karena takut. Bila mereka keluar akan dibunuh oleh orang-orang. Penduduk Damaskus semuanya keluar kepada jenazahnya. Oleh karena itu perkataan yang masyhur dari Imam Besar Ahmad bin Hambal adalah : Katakanlah kepada ahlul bidah perjanjian antara kami dan kalian adalah hari jenazah.
Kalau kita melihat muridnya, Imam Ibnul Qayyim (yang saya katakan) dan saya berharap tidak berlebih-lebihan :Dia adalah murid terbaik dari ulama terbaik sepanjang abad. Dia memahami prinsip-prinsip dakwah Ibnu Taimiyah. Mengolah kaidah-kaidahnya, kenyang dari semua sisi-sisinya, menimba dari semua sumber-sumbernya, dan melebihi syaikhnya dalam sesuatu yang tidak dicapai oleh syaikhnya, yaitu keindahan tutur katanya dalam menerangkan.
Tetapi saya ingin mengoreksi kepada diri saya dengan mengatakan, bahwa kita tidak mendapatkan perkataan Ibnu Taimiyah yang indah dalam karangannya, sebagaimana kita mendapatkan pada Ibnul Qayyim. Bukan berarti Ibnu Taimiyah tidak memiliki kemampuan yang sempurna dari sekedar membuat karangan dan melebihi Ibnul Qayyim. Tetapi karena kemampuannya atau kehidupannya penuh dengan cobaan. Beliau tidak memiliki waktu dan kesabaran yang cukup untuk menyusun makna-makna dan kata-kata sebagaimana yang dimiliki oleh muridnya Ibnul Qayyim. Ini adalah masalah yang sangat penting untuk dicermati.
Diantara hal-hal yang berkaitan dengan Ibnu Taimiyah, saya akan menyebutkan suatu yang penting. Bahwa Imam Ibnu Taimiyah Rahimahullah memiliki perkataan yang indah, yang dia terapkan sendiri pada dirinya, dan disebarkan oleh murid-murid beliau. Sampai sekarang kita mengulang-ulanginya, karena perkataan itu diambil dari firman Allah. Perkataan itu adalah.
"Dengan kesabaran dan keyakinan, keimanan dalam agama dicapai"
Perkataan ini dibenarkan oleh firman Allah.
Artinya : Dan kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami [As-Sajdah : 24]
Inilah Ibnu Taimiyah, seorang ulama yang sangat masyhur dalam dakwah mentauhidkan Allah Azza wa Jalla.
[Disalin dari Majalah As-Sunnah Edisi 03/Tahun VI/1423H/2002M, Diambil dari materi ceramah Syaikh Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamid Al-Halabi Tanggal 3-6 Muharram 1423H di Ma'had Ali Al-Irsayd Surabaya dengan judul A'lam Dakwah Salafiyah Diterjemahkan oleh Azhar Rabbani dan Muslim Atsari]
Selengkapnya...
Minggu, 22 Agustus 2010
SYAIKHUL ISLAM IBNU TAIMIYAH BAG 2
SYAIKHUL ISLAM IBNU TAIMIYAH
SyAikhul Islam Taqiyuddin Abul Abbas Ahmad Bin Abdul Halim Bin Abdus Salam Bin Abdullah bin Al-Khidhir bin Muhammad bin Taimiyah An-Numairy Al Harani Adimasqi Al Hambali. Beliau adalah Imam, Qudwah, ‘Alim, Zahid dan Da’i ila Allah, baik dengan kata, tindakan, kesabaran maupun jihadnya. Syaikhul Islam, Mufti Anam, pembela dinullah dan penghidup sunah Rasul shalallahu’alaihi wa sallam yang telah dimatikan oleh banyak orang.
Lahir di Harran, salah satu kota induk di Jazirah Arabia yang terletak antara sungai Dajalah (Tigris) dengan Efrat, pada hari Senin 10 Rabiu’ul Awal tahun 661H. Beliau berhijrah ke Damasyq (Damsyik) bersama orang tua dan keluarganya ketika umurnya masih kecil, disebabkan serbuan tentara Tartar atas negerinyaa. Mereka menempuh perjalanan hijrah pada malam hari dengan menyeret sebuah gerobak besar yang dipenuhi dengan kitab-kitab ilmu, bukan barang-barang perhiasan atau harta benda, tanpa ada seekor binatang tunggangan-pun pada mereka.
Suatu saat gerobak mereka mengalami kerusakan di tengah jalan, hingga hampir saja pasukan musuh memergokinya. Dalam keadaan seperti ini, mereka ber-istighatsah (mengadukan permasalahan) kepada Allah Ta’ala. Akhirnya mereka bersama kitab-kitabnya dapat selamat.
PERTUMBUHAN DAN GHIRAHNYA KEPADA ILMU
Semenjak kecil sudah nampak tanda-tanda kecerdasan pada diri beliau. Begitu tiba di Damsyik beliau segera menghafalkan Al-Qur’an dan mencari berbagai cabang ilmu pada para ulama, huffazh dan ahli-ahli hadits negeri itu. Kecerdasan serta kekuatan otaknya membuat para tokoh ulama tersebut tercengang.
Ketika umur beliau belum mencapai belasan tahun, beliau sudah menguasai ilmu Ushuluddin dan sudah mengalami bidang-bidang tafsir, hadits dan bahasa Arab.
Pada unsur-unsur itu, beliau telah mengkaji musnad Imam Ahmad sampai beberapa kali, kemudian kitabu-Sittah dan Mu’jam At-Thabarani Al-Kabir.
Suatu kali, ketika beliau masih kanak-kanak pernah ada seorang ulama besar dari Halab (suatu kota lain di Syria sekarang, pen.) yang sengaja datang ke Damasyiq, khusus untuk melihat si bocah bernama Ibnu Taimiyah yang kecerdasannya menjadi buah bibir. Setelah bertemu, ia memberikan tes dengan cara menyampaikan belasan matan hadits sekaligus. Ternyata Ibnu Taimiyah mampu menghafalkannya secara cepat dan tepat. Begitu pula ketika disampaikan kepadanya beberapa sanad, beliaupun dengan tepat pula mampu mengucapkan ulang dan menghafalnya. Hingga ulama tersebut berkata: “Jika anak ini hidup, niscaya ia kelak mempunyai kedudukan besar, sebab belum pernah ada seorang bocah seperti dia.
Sejak kecil beliau hidup dan dibesarkan di tengah-tengah para ulama, mempunyai kesempatan untuk mereguk sepuas-puasnya taman bacaan berupa kitab-kitab yang bermanfaat. Beliau infakkan seluruh waktunya untuk belajar dan belajar, menggali ilmu terutama kitabullah dan sunah Rasul-Nya shallallahu’alaihi wa sallam.
Lebih dari semua itu, beliau adalah orang yang keras pendiriannya dan teguh berpijak pada garis-garis yang telah ditentukan Allah, mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Beliau pernah berkata: ”Jika dibenakku sedang berfikir suatu masalah, sedangkan hal itu merupakan masalah yang muskil bagiku, maka aku akan beristighfar seribu kali atau lebih atau kurang. Sampai dadaku menjadi lapang dan masalah itu terpecahkan. Hal itu aku lakukan baik di pasar, di masjid atau di madrasah. Semuanya tidak menghalangiku untuk berdzikir dan beristighfar hingga terpenuhi cita-citaku.”
Begitulah seterusnya Ibnu Taimiyah, selalu sungguh-sungguh dan tiada putus-putusnya mencari ilmu, sekalipun beliau sudah menjadi tokoh fuqaha’ dan ilmu serta dinnya telah mencapai tataran tertinggi.
PUJIAN ULAMA
Al-Allamah As-Syaikh Al-Karamy Al-Hambali dalam Kitabnya Al-Kawakib AD-Darary yang disusun kasus mengenai manaqib (pujian terhadap jasa-jasa) Ibnu Taimiyah, berkata: “Banyak sekali imam-imam Islam yang memberikan pujian kepada (Ibnu Taimiyah) ini. Diantaranya: Al-Hafizh Al-Mizzy, Ibnu Daqiq Al-Ied, Abu Hayyan An-Nahwy, Al-Hafizh Ibnu Sayyid An-Nas, Al-Hafizh Az-Zamlakany, Al-Hafidh Adz-Dzahabi dan para imam ulama lain.
Al-Hafizh Al-Mizzy mengatakan: “Aku belum pernah melihat orang seperti Ibnu Taimiyah ….. dan belum pernah kulihat ada orang yang lebih berilmu terhadap kitabullah dan sunnah Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam serta lebih ittiba’ dibandingkan beliau.”
Al-Qadhi Abu Al-Fath bin Daqiq Al-Ied mengatakan: “Setelah aku berkumpul dengannya, kulihat beliau adalah seseorang yang semua ilmu ada di depan matanya, kapan saja beliau menginginkannya, beliau tinggal mengambilnya, terserah beliau. Dan aku pernah berkata kepadanya: “Aku tidak pernah menyangka akan tercipta manasia seperti anda.”
Al-Qadli Ibnu Al-Hariry mengatakan: “Kalau Ibnu Taimiyah bukah Syaikhul Islam, lalu siapa dia ini ?” Syaikh Ahli nahwu, Abu Hayyan An-Nahwi, setelah beliau berkumpul dengan Ibnu Taimiyah berkata: “Belum pernah sepasang mataku melihat orang seperti dia …..” Kemudian melalui bait-bait syairnya, beliau banyak memberikan pujian kepadanya.
Penguasaan Ibnu Taimiyah dalam beberapa ilmu sangat sempurna, yakni dalam tafsir, aqidah, hadits, fiqh, bahasa arab dan berbagai cabang ilmu pengetahuan Islam lainnya, hingga beliau melampaui kemampuan para ulama zamannya. Al-‘Allamah Kamaluddin bin Az-Zamlakany (wafat th. 727 H) pernah berkata: “Apakah ia ditanya tentang suatu bidang ilmu, maka siapa pun yang mendengar atau melihat (jawabannya) akan menyangka bahwa dia seolah-olah hanya membidangi ilmu itu, orang pun akan yakin bahwa tidak ada seorangpun yang bisa menandinginya”. Para Fuqaha dari berbagai kalangan, jika duduk bersamanya pasti mereka akan mengambil pelajaran bermanfaat bagi kelengkapan madzhab-madzhab mereka yang sebelumnya belum pernah diketahui. Belum pernah terjadi, ia bisa dipatahkan hujahnya. Beliau tidak pernah berkata tentang suatu cabang ilmu, baik ilmu syariat atau ilmu lain, melainkan dari masing-masing ahli ilmu itu pasti terhenyak. Beliau mempunyai goresan tinta indah, ungkapan-ungkapan, susunan, pembagian kata dan penjelasannya sangat bagus dalam penyusunan buku-buku.”
Imam Adz-Dzahabi rahimahullah (wafat th. 748 H) juga berkata: “Dia adalah lambang kecerdasan dan kecepatan memahami, paling hebat pemahamannya terhadap Al-Kitab was-Sunnah serta perbedaan pendapat, dan lautan dalil naqli. Pada zamannya, beliau adalah satu-satunya baik dalam hal ilmu, zuhud, keberanian, kemurahan, amar ma’ruf, nahi mungkar, dan banyaknya buku-buku yang disusun dan amat menguasai hadits dan fiqh.
Pada umurnya yang ke tujuh belas beliau sudah siap mengajar dan berfatwa, amat menonjol dalam bidang tafsir, ilmu ushul dan semua ilmu-ilmu lain, baik pokok-pokoknya maupun cabang-cabangnya, detailnya dan ketelitiannya. Pada sisi lain Adz-Dzahabi mengatakan: “Dia mempunyai pengetahuan yang sempurna mengenai rijal (mata rantai sanad), Al-Jarhu wat Ta’dil, Thabaqah-Thabaqah sanad, pengetahuan ilmu-ilmu hadits antara shahih dan dhaif, hafal matan-matan hadits yang menyendiri padanya ….. Maka tidak seorangpun pada waktu itu yang bisa menyamai atau mendekati tingkatannya ….. Adz-Dzahabi berkata lagi, bahwa: “Setiap hadits yang tidak diketahui oleh Ibnu Taimiyah, maka itu bukanlah hadist.
Demikian antara lain beberapa pujian ulama terhadap beliau.
Selengkapnya...
ULAMA YANG MENJULUKI IBNU TAIMIYAH DENGAN SYAIKHUL ISLAM
Adapun tentang kelayakan Ibnu Taimiyah untuk berlaqab “Syaikhul Islam”, maka Tanyakanlah kepada para Hafidz! Seperti As-Suyuthi dan Ibnu Rajab, Tanyakan Juga kepada As Sya’rani, kenapa mereka melaqabkan beliau dengan laqab tersebut!
Terdapat pada Perkataan As-Suyuthi tentang Ibnu Taimiyah “Syaikhul Islam, Seorang Hafidz yang Faqih, Mujtahid, Mufassir ulung, syaikhul Islam, langka Dimasanya, alim lagi zuhud”.[1]
Tanyakan Juga Az Zubaidi pemilik kitab Taajul Aruus dan Ittihaf Assaadah, kenapa Dia menyifati Ibnu Taimiyah didalam kitabnya (Ittihaf As Saadah) dengan Julukan Syaikhul Islam dan memuji beliau serta berhujjah dengan dengan perkataan-perkataan beliau berulang kali pada kitab tersebut. Setelah menyifati beliau dengan Syaikhul Islam dan menukil perkataan Agung dari beliau tentang ushul Qur’an dia berkata : “Selesai Ikhtisar dari Perkataan Ibnu Taimiyah yang merupakan perkataan yang Sangat berharga sekali”.[2]
Bahkan tanyalah Assubki yang berbangga Bahwa Abul Hajjaj Al Mizzi hanya menulis lafadz Syaikhul Islam kepada dua Orang,: Kepada ayahnya (subki) Taqiyuddin As Subki dan kepada Taqiyuddin Ibnu Taimiyah.[3]
Dan Al Ala’i telah Mengakui bahwa Al Mizzi hanya menetapkan Lafadz Syaikhul Islam kepada Taqiyuddin As Subki dan Taqiyuddin Ibnu Taimiyah[4]
Dan Syaikh Mula Ali Qariy AlHanafi yang banyak mencela Ibnu Taimiyah dan dan Muridnya Ibnul Qayyim seperti pada Kitab As Samaail, Justeru menyifati keduanya Sebagai Syaikhul Islam serta penolong dan pemuka Ummat ini.
As Sya’rani Juga mensifatkan beliau dengan Sebutan Syaikhul Islam.[5]
Syaikh Syamsuddin Muhammad bin Shofiyuddin yang berkata: ” kalau Ibnu Taimiyah bukan Syaikhul Islam, maka Siapa”?
disebutkan Oleh Qadhil Qudhat Ibnul Hariri Alhanafi. Beliau mendapat penganiayaan disebabkan Sikapnya adilnya terhadap Beliau. [6]
Ibnu Thulun Juga mensifat Beliau sebagai ” Syaikhul islam yang Bertaqwa” dan bersaksi bahwasanya beliau adalah seorang yang amat alim di Zamannya.
Dan Muhammad Anwar Al kasymiri Pengarang Kitab Faidhul Bari Syarah Sohih Bukhari yang amat dipuji oleh Alkautsari dan Abu Ghaddah juga menyebut beliau Syaikhul Islam.[7]
Untuk yang ingin lebih mengetahui para Ulama yang menjuluki Beliau dengan Syaikhul Islam, maka Bacalah Kitab Ar Raddul waafir ‘ala man athlaqa man asma ibna taimiyata syaikhal islami kafir
diterjemahkan dari Kitab Mawsuah Ahlussunnah karangan Abdurrahman Addimasyqi
[1] Thabaqatul Huffadz hal-516, biografi nomor 1144, dan Muqaddimah kitab Sownul Mantiq wal Kalam l Asybah Wan Nadzoir 3/683
[2] Ittihaf Saadatul Muttaqin 4/537
[3] Thabaqatus Syafiiyah 10/195, Adzdzail ala thabaqatil hanabilah 2/387 Al Asybah wan Nadzair 3/681-683
[4] Naqdutthaalib lizaghlil Munashib hal 45
[5] Lathoiful Minan wal Akhlaq fit Tahdits bini’matillaahi alal Ithlaq hal. 552
[6] Addaarul Kaaminah 1/147, Albidayah wannihayah libni katsir 14/142
[7] Ikfaarul mulhidin hal 113 dan lihat Juga At Tashrih bima tawataro fi nuzuulil masih
sumber: syaikhulislam.wordpress.com
Selengkapnya...
SALAH PAHAM KH SIRAJUDDIN ABBAS TERHADAP IBNU TAIMIYAH
Kertas kerja ini telah dibentang dan dikulliahkan di beberapa masjid di Perlis, di Selangor, di Johor, di Pulau Pinang dan di Pertubuhan Muhammadiyah Singapura. Pada mulanya kertas kerja ini ditulis, dibentang dan dikulliahkan atas permintaan beberapa orang ulama Perlis yang membantah tuduhan Sirajuddin Abbas di dalam bukunya “Iktiqad Ahli Sunnah Wal-Jamaah”. Yang mana di dalam buku tersebut termuat beberapa fitnah, tuduhan yang tidak berasas, palsu, keterlaluan dan liar terhadap Syeikhul Islam Ibn Taimiyah rahimahullah.
Kemudian kertas kerja ini dikulliahkan semula di Singapura dan dibeberapa negari di Malaysia atas permintaan beberapa individu yang terlibat dengan kegiatan dakwah Islamiyah sama ada yang terdiri dari ahli-ahli jawatan kuasa masjid, pertubuhan atau badan NGO.
Antara tujuan kertas kerja ini diterbitkan ialah untuk membantu memperbaiki kesilapan serta kekeliruan pandangan kebanyakan masyarakat Islam Nusantara terhadap akidah dan sejarah hidup Ibn Taimiyah.
Semoga kertas kerja yang serba ringkas ini mampu memberi jawapan secara ilmiyah kepada mereka yang selama ini mempersoalkan atau tersalah anggap terhadap akidah Syeikhul Islam Ibn Taimiyah, kerana pada hakikatnya beliau amat berpegang teguh kepada akidah Ahli Sunnah wal-Jamaah yang mengikut manhaj ulama Salaf as-Soleh.
بِسْـــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
اِنَّ الْحَمْدَ للهِ ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شَرُوْرِ اَنْفُسِنَا ، وَمِنْ سَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا ، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَمُضِلَّ لَهُ ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَهَدِيَ لَهُ ، وَاَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ ، وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ .
{يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتَنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ} . اَمَّا بَعْدُهُ:
Kertas kerja ini, bukanlah bertujuan untuk memperkata kan biodata atau kesilapan isi kandungan buku "Iktiqad Ahli Sunnah Wal-Jamaah" tulisan K.H Sirajuddin Abbas, kerana tidak ramai dari kalangan umat Islam Nusantara mengenali beliau. Malah beliau langsung tidak dikenali oleh umat Islam antarabangsa. Namun, Ibn Taimiyah rahimahullah yang menjadi sasaran tuduhan dan fitnah Sirajuddin pula sebaliknya, khidmat dan perjuangan Ibn Taimiyah dengan pedang dan pena untuk membela Islam sangat dikenali dan diketahui oleh para ulama serta sebahagian besar umat Islam di seluruh dunia, sama ada di dunia Islam atau bukan Islam.
Oleh yang demikian, tulisan ini hanya bertujuan mengkoreksi dan menyanggah tuduhan serta fitnah Sirajuddin terhadap Syeikhul Islam Ibn Taimiyah. Namun, bukanlah pula tujuan penulis untuk mengajak para pembaca supaya fanatik atau ghulu kepada Ibn Taimiyah. Penulis memulakan tulisan ringkas ini dengan membawakan sedikit biodata Ibn Taimiyah rahimahullah:
Ibn Taimiyah adalah seorang ulama besar, mujahid (berjuang dengan pedang, tulisan dan jiwa raganya), mujaddid (refomis) dan diberi julukan sebagai Syeikhul Islam oleh para ulama Salaf as-Soleh. Nama penuh beliau ialah Taqiyudin Abul Abbas Ahmad as-Syeikh Syihabudddin Abi al-Mohsin Abdulhalim ibn Syeikhul Islam Majdudin Abil Barakat Abdussalam Ibn Abi Muhammad Abdullah bin Abi al-Qasim al-Khadar bin Muhammad bin al-Khadar bin Ali bin Abdullah Ibn Taimiyah al-Harrani yang dinasabkan kepada Al-Harran di Negeri Syam.[1]
Ibn Taimiyah dilahirkan di Harran pada 590H. Menghafal al-Quran al-Karim, mendalami hadis dari pamannya Fahruddin dan beberapa orang ulama sehingga menjadi penghafal hadis (Ahli Hadis). Belayar mencari ilmu hingga ke Bagdad ibu negeri Khalifah Abbassiyah pada tahun 603H dan wafat pada 672H. di Bagdad.[2]
Ibn Taimiyah diiktiraf keilmuannya oleh para ulama Islam di serata dunia sehinggalah ke hari ini. Menghasilkan ratusan kitab yang tidak dipertikaikan dan mendapat pujian dari az-Zahabi rahimahullah: "Setiap hadis yang tidak diketahui oleh Ibn Taimiyah maka dia bukanlah hadis".[3] Di segi ilmu, beliau menerima dan mengguna pakai dalam fatwa-fatwanya ilmu-ilmu dari kesemua ulama Salaf terutamanya dari imam mazhab yang empat, dari pembesar hadis seperti Bukhari, Syafie, Tabari, al-Asbahani, al-Lalakai, Ibn Khuzaimah[4] (dan yang lain-lainnya).
Keilmuan Ibn Taimiyah terbukti telah diiktiraf (diakui kebenarannya) oleh para ulama Nusantara termasuklah oleh pakar-pakar rujuk Pusat Islam Malaysia dan Jabatan Kemajuan Islam Malaysia (JAKIM). Sebagai contoh:
1. Prof. Dr. Abdulfatah Harun Ibrahim dari Jabatan Usuluddin dan Falsafah, Fakulti Pengajian Islam UKM sebagaimana yang terdapat dalam nukilan takhrij hadis daripada Ibn Taimiyah dalam risalah "Martabat Tujuh Tajjali (Penampakan) Allah Melalui Tujuh Martabat (Lapisan). Risalah ini diterbitkan oleh JAKIM. Lihat cetakan pertama. l998. Hlm. 4.
2. Risalah Mengenal Hadis Maudhu' oleh penel Bahagian Penyelidikan Islam, Jakim. Cetakan pertama. l998. Hlm 55-71. Wan Subki Wan Salleh. Kolej JAIPETRA, Kelantan dalam artikel "Usaha-Usaha Ulama Mendedahkan Hadis Palsu".
3. Al-Hadis al-Qussos, susunan Ibn Taimiyah dijadikan sebagai kitab rujukan dalam membongkar hadis-hadis palsu yang terbesar di kalangan umat Islam (Risalah: Mengenal Hadis Maudhu' oleh Penel Bahagian Penyelidikan Islam, JAKIM. Cetakan pertama. l998. Hlm. 20.
4. Anak murid Ibn Taimiyah yang terkenal seperti Ibn Kathir dan Ibn Qaiyim al-Jauzi diiktiraf sebagai ulama tafsir dan akidah oleh masyarakat Islam Malaysia. Contohnya: Prof. Madya Dr. Huda @ Udah bin Mohsin, UKM menukil dalam rujukan nota kakinya dari kitab tulisan Ibn Qaiyim al-Jauzi. Lihat: "CONTOH-CONTOH HADITH PALSU". Hlm. 43.
Sememangnya penulis merasakan amat berkewajipan dan perlu menulis, membentang dan mengenengahkan kertas kerja ini lantaran permintaan dari beberapa orang yang telah membaca buku K.H Sirajuddin Abbas: "Akidah Ahli Sunnah Wal-Jamaah". Terutama para ulama dari Negeri Perlis yang amat peka dengan mereka yang memusuhi dan ingin menghancurkan amalan dan akidah Ahli Sunnah wal-Jamaah yang berpegang dengan manhaj Salaf as-Soleh. Mereka meminta agar penulis mengkoreksi beberapa kesilapan K.H Sirajuddin Abbas tentang fitnah dan tuduhannya terhadap pejuang sunnah iaitu Syeikhul Islam Ibn Taimiyah yang dimuatkan di dalam buku beliau.
Di dalam kertas kerja ini, penulis mencuba sedaya upaya membetulkan tuduhan dan fitnah tersebut. Diharap para Muslimin/Muslimat terutama yang mengikuti kulliah atau menghadiri pembentangan kertas kerja ini serta para pembaca yang budiman dapat sama-sama membuka minda dan berlapang dada dengan rasa keikhlasan supaya mendapat manfaat dari pengkoreksian ini.
Tuduhan K.H. Sirajuddin (1)
K.H. Sirajuddin dengan mudah menghukum sesat Syeikhul Islam Ibn Taimiyah mungkin lantaran ketidak fahaman, belum membaca atau tidak meneliti dengan cermat kitab-kitab Syeikhul Islam Ibn Taimiyah, sehingga penjelasan beliau yang berdasarkan al-Quran, hadis, athar yang sahih serta fatwa para ulama muktabar bahawa Tuhan mempunyai muka, tangan, mata, rusuk dan bersemayam (istiwa), semuanya itu tidak pernah mencernai lubuk hati K.H. Sirajuddin, lantas beliau menyesatkan Ibn Taimiyah dan pastinya menyesatkan juga semua ulama Salaf as-Soleh yang sefahaman dengan Ibn Taimiyah.
K.H. Sirajuddin juga menyesatkan Ibn Taimiyah kerana beliau menyatakan bahawa Tuhan (Allah) berada di langit atau bertempat, boleh ditunjuk dengan anak jari ke atas, Tuhan mempunyai jari, mempunyai tangan, mempunyai tumit kaki, mempunyai tangan kanan, mempunyai nafas, turun-naik dan Tuhan itu "masa". Bersebab dari kenyataannya ini maka K.H. Sirajuddin menamakan Ibn Taimiyah sebagai kaum Mujassimiyah atau Musyabbihah yang sesat.[5]
Penjelasan (1)
Pada hakikatnya bukan Syeikhul Islam Ibn Taimiyah rahimahullah seorang sahaja yang menyatakan bahawa Tuhan mempunyai muka, mempunyai tangan, mempunyai mata, mempunyai jari, berada di langit (bertempat) serta mempunyai sifat-sifat lain yang paling sempurna dan layak bagiNya, oleh itu beliau tidak boleh dihukum sesat oleh K. H. Sirajuddin dan oleh mereka yang terpengaruh dengan fahaman K.H. Sirajuddin.
Dalam hal ini, fahaman, pegangan dan amalan Ibn Taimiyah adalah berdasarkan fahaman para sahabat, tabi'in, tabi’ut at-tabi’in dan semua para ulama Ahli Sunnah wal-Jamaah yang bermanhaj Salaf as-Soleh, kerana kenyataannya beliau bersefahaman, sependapat dan seakidah dengan mereka. Antara mereka yang jelas semanhaj (sefahaman dan seakidah) dengan Syeikhul Islam Ibn Taimiyah ialah:
(1). Imam al-Auza'ii yang dianggap Imam ahli Syam di zamannya. Beliau telah menegaskan:
كُنَّا وَالتَّابَعُوْنَ مُتَوَافِرُوْنَ نَقُوْلُ : انَّ اللهَ عَلَى عَرْشِهِ وَنُؤْمِنُ بِمَا وَرَدَتْ بِهِ السُنَّةَ مِنْ صِفَاتِ اللهِ تَعَالَى.
"Kami dan para Tabi'in semuanya menetapkan dengan kesepakatan qaul kami bahawa: Sesungguhnya Allah di atas 'ArasyNya dan kami beriman dengan apa yang telah dinyatakan oleh Sunnah berkenaan sifat-sifat Allah Taala".[6]
(2). Imam Abu Hasan Al-Asy'ari rahimahullah, yang dikenali sebagai Imam Ahli sunnah wal-Jamaah, beliau telah menegaskan bahawa al-Quran bukan makhluk dan diturunkan oleh Allah yang berada di langit dan beliau seterusnya menjelaskan:
"Allah mempunyai sifat, mempunyai tangan, bersemayam di atas ArasyNya dan mempunyai muka. Al-Quran itu Kalamullah bukan makhluk dan al-Quran diturunkan dari langit".[7]
(3). Imam as-Syafie rahimahullah menjelaskan (sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abi Talib setelah beliau ditanya tentang sifat Allah):
وَاَنَّ لَهُ يَدَيْنِ بَقَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ (بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوْطَتَانِ) وَاَنَّ لَهُ يَمِيْنًا بِقَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ (وَالسَّمَوَاتُ مَطْوِيَات بِيَمِيْنِهِ) وَاَنَّ لَهُ وَجْهًا بِقَوْلِهِ (كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ اِلاَّ وَجْهَه)...وَاَنَّ لَهُ قَدَمًا بِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمِ (حَتَّى يَضَعَ عَزَّ وَجَلَّ فِيْهَا قَدمَهُ)... وَاَنَّ لَهُ اُصْبُعًا بِقَوْلِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (مَا مِنْ قَلْبٍ اِلاَّ هُوَ بَيْنَ اُصْبُعَيْنِ مِنْ اَصَابِعِ الرَّحْمَن).... نُثبِتُ هَذِهِ الصِّفَات وَنَنفِي التَّشْبِيْه كَمَا نفِى ذَلِكَ عَنْ نَفْسِهِ تَعَالَى ذِكْرُهُ فَقَالَ (لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ).
"Dan bagiNya dua tangan sebagaimana firmanNya: (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka. BagiNya tangan sebagaimana firmanNya: Dan langit digulung dengan tangan kananNya. Allah mempunyai wajah sebagaimana firmanNya: Setiap sesuatu akan binasa kecuali WajahNya. Baginya kaki sebagai sabda Nabi saw: Sehinggalah Dia meletakkan wajah dan KakiNya. Dia Mempunyai jari sebagaimana sabda Nabi sallallahu 'alaihi wa-sallam: Tiadalah hati itu kecuali antara jari-jari dari jari-jari Ar-Rahman (Allah). Kami menetapkan sifat-sifat ini dan menafikan dari menyerupakan sebagaimana dinafikan sendiri oleh Allah sebagaimana difirmankan: (Tiada sesuatu yang semisal denganNya dan Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat)".[8]
Beliau (Imam Syafie) seterusnya menjelaskan:
"Dan Allah Ta'ala di atas 'ArasyNya (Dan 'ArasyNya) di langit".[9]
Imam Syafie seterusnya menjelaskan lagi:
"Kita menetapkan sifat-sifat (Allah) sebagaimana yang didatangkan oleh al-Quran dan yang warid tentangNya dari sunnah, kami menafikan tasybih (penyerupaan) tentangNya kerana dinafikan oleh diriNya sendiri sebagaimana firmanNya (Tiada sesuatu yang semisal denganNya)".[10]
Imam Syafie telah menjelaskan juga tentang turun naiknya Allah:
وَاَنَّهُ يَهْبِطُ كُلَّ لَيْلَةٍ اِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا بِخَبَرِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
"Sesungguhnya Dia (Allah) turun setiap malam ke langit dunia (sebagaimana) menurut khabar dari Rasulullah sallallahu 'alaihi wa-sallam".[11]
Imam Syafie dan Ibn Taimiyah, mereka berdua ada kesepakatannya dalam meyakini tentang turun-naiknya Allah. Mereka berlandaskan kepada sabda Rasulullah sallallahu 'alaihi wa-sallam:
يَنْزِلُ رَبُّنَا اِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا كُلَّ لَيْلَةٍ حِيْنَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الآخِرِ فَيَقُوْلُ : مَنْ يَدْعُوْنِي فَاَسْتَجِيْبَ لَهُ ، مَنْ يَسْاَلُنِيْ فَاعْطِيْهِ ، مَنْ يَسْتَغفرُنِيْ فَاَغْفِرلَهُ.
"Tuhan kita turun ke langit dunia pada setiap malam apabila sampai ke satu pertiga dari akhir malam, maka Ia berfirman: Sesiapa yang berdoa akan Aku perkenankan, sesiapa yang meminta akan Aku tunaikan dan sesiapa yang meminta keampunan akan Aku ampunkan".[12]
(4). Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah ketika ditanya tentang bagaimana untuk kita mengetahui di mana Allah? Beliau menyatakan:
وَقِيْلَ لِعَبْدِ اللهِ بْنِ الْمُبَارَكِ : كَيْفَ نَعْرِفُ رَبَّنَا ؟ قَالَ : بَاَنَّهُ فَوْقَ السَّمَآءِ السَابِعَةِ عَلَى الْعَرْشِ
"Ketika ditanyakan kepada Abdullah bin al-Mubarak: Bagaimana kita boleh mengetahui di mana Tuhan kita? Beliau menjawab: Dengan mengetahui bahawa Dia di atas langit ketujuh di atas Arasy".[13]
Di sebuah hadis sahih, Rasulullah sallallahu 'alaihi wa-sallam mengakui dan menerima penjelasan seorang hamba bahawa Allah itu di langit, tetapi kita tidak tahu bagaimana K.H Sirajuddin boleh menolak hakikat dan kenyataan hadis sahih ini:
قَالَ مُعَاوِيَةُ بْنُ حَكَمُ السُّلَمِي : وَكَانَتْ لِيْ جَارِيَةٌ تَرْعَى غَنَمًا لِيْ اُحُدٍ وَالْجُوَانِيَةِ فَاطَّلَعْتُ ذَاتَ يَوْمٍ فَاِذَا بَالذِّئْبِ قَدْ ذَهَبَ بِشَاةٍ مِنْ غَنَمِهَا وَاَنَا رَجُلٌ مِنْ بَنِيْ آدَمَ اَسَفَ كَمَا يَاْسِفُوْنَ . لَكِنَّيْ صَكَكْتُهَا صَكَّةً فَاَتَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّىاللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَظَّمَ ذَلِكَ عَلَيَّ . قُلْتُ يَارَسُوْلَ اللهِ اَفَلاَ اَعْتِقُهَا ؟ قَالَ : اِئْتِنِيْ بِهَا . فَقَالَ لَهَا : اَيْنَ اللهُ ؟ قَالَتْ : فِى السَّمَاءِ . قَالَ : مَنْ اَنَا ؟ قَالَتْ : اَنْتَ رَسُوْلُ اللهِ . قَالَ : اَعْتِقُهَا فِاِنَّهَا مُؤْمِنَةٌ.
"Berkata Muawiyah bin Hakam as-Sulami: Aku memiliki seorang hamba wanita yang mengembalakan kambing di sekitar pergunungan Uhud dan Juwainiyah. Pada suatu hari aku melihat seekor serigala menerkam dan membawa lari seekor kambing gembalaannya. Sedang aku termasuk seorang anak Adam kebanyakan. Maka aku mengeluh sebagaimana mereka. Kerananya wanita itu aku pukul dan aku marahi. Kemudian aku menghadap Rasulullah, maka baginda mempersalahkan aku., Aku berkata: Wahai Rasulullah! Adakah aku harus memerdekakannya" Jawab Rasullullah: Bawalah wanita itu ke sini. Maka Rasulullah bertanya kepada wanita itu. Di mana Allah" Dijawabnya: Di langit. Rasullullah bertanya lagi: Siapa aku" Dijawabnya: Engkau Rasullullah. Maka baginda bersabda: Merdekakanlah wanita ini, kerana dia adalah seorang mukminah".[14]
Dalam satu riwayat hadis mutaffaq 'alihi, bahawa Allah itu "ad-Dahr" atau "masa". Namun, bagaimana K.H. Sirajuddin Abbas menafikannya. Sabda Rasulullah ini:
لاَ تَسُبُّوْا الدَّهْرَ فَاِنَّ اللهَ هُوَ الدَّهْرُ.
"Janganlah kamu maki ad-dahr (masa), kerana sesungguhnya Allah itu adalah Masa"[15]
Tuduhan K.H. Sirajuddin (2)
Tanpa fakta yang konkrit dan betul K.H. Sirajuddin cuba menuduh dan terus memfitnahkan bahawa beliau (Syeikhul Islam Ibn Taimiyah) terpengaruh dengan fahaman kaum Musyabbihah dan Mujassimiyah yang sesat, kerana kononnya Ibn Taimiyah menyerupakan Tuhan dengan makhlukNya. Tuduhan dan fitnah K.H. Sirajuddin ini telah mempengaruhi ramai kaum muslimin yang jahil tentang siapakah Syeikhul Islam Ibn Taimiyah yang sebenarnya. Tuduhan dan fitnah ini telah ditangkis dan diperbetulkan oleh para ulama Ahli Sunnah wal-Jamaah.
Penjelasan (2)
Pada hakikatnya, boleh dianggap mustahil untuk ditolak dan dinafikan bagi sesiapa yang mengkaji kesemua kitab-kitab yang memperkatakan tentang akidah hasil tulisan Ibn Taimiyah, yang mana ternyata Ibn Taimiyah amat menentang dan memerangi dengan keras, tegas dan serius semua fahaman sesat termasuklah Musyabbihah dan Mujassimah. Ini dapat dibuktikan melalui tulisannya sebagimana dinyatakan oleh beliau sehingga berulang kali:
مِنَ اْلاِيْمَانِ بِاللهِ : اَلاِيْمَانُ بِمَا وَصَفَ بِهِ نَفَسَهُ مِنْ غَيْرِتَحْرِيْفِ فِى كِتَابِهِ ، وَبِمَا وَصَفَ بِهِ رَسُوْلَهُ مِنْ غَيْرِ تَحْرِيْفِ وَلاَ تَعْطِيْل وَغَيْرِ تَكْيِيْفِ وَلاَ تَمْثِيْلِ بَلْ يُؤْمِنُ بِاَنَّ اللهَ سُبْحَانَهُ (لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ).
"Beriman kepada Allah ialah beriman dengan apa yang disifatkannya sendiri (oleh Allah) tanpa tahrif (tidak merubah lafaz dan maknanya) mengikut sebagaimana di dalam kitabNya, mengikut sebagaimana disifatkan oleh RasulNya tanpa tahrif, ta'til (meniadakan sifat Ilahiyah, mengingkari keberadaan sifat-sifat tersebut pada ZatNya), tanpa takyif (diperbagaimana) dan tanpa tamsil (memisalkan dengan makhluk), sebaliknya beriman bahawa Allah Subhanahu wa-Ta’ala (Tiada sesuatu yang semisal denganNya dan Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat)".[16]
Sebenarnya Ibn Taimiyah telah mengklasifikasikan Musyabbihah dan Mujassimah sebagai golongan yang kufur dan sesat. Maka bagaimana K.H. Sirajuddin menamakan Ibn Taimiyah sebagai kaum Musyabbihah dan Mujassimiyah? Ibn Taimiyah pernah berkata tentang golongan yang berjaya (selamat ke syurga) dan menolak golongan sesat seperti golongan Musyabbihah:
"Fahaman (yang selamat ialah) yang pertengahan, bukan golongan Jahmiyah yang menta'til (sifat Allah) dan bukan juga golongan ahli tamsil seperti Musyabbihah".[17]
Penjelasan Ibn Taimiyah ini tidak dapat dinafikan oleh mereka yang rajin meneliti dan mengkaji kitab-kitab tulisan beliau. Tetapi K.H. Sirajuddin telah membuat tuduhan melulu kerana beliau tidak meneliti kitab Syeikhul Islam ini yang ratusan jumlahnya.
Tuduhan K.H. Sirajuddin (3)
Menurut kenyataan dan tuduhan K.H. Sirajuddin bahawa Syeikhul Islam Ibn Taimiyah menentang imam yang empat, sombong, menuduh para ulama semuanya penganut khurafat dan bid'ah. K.H. Sirajuddin mengaitkan nenek dan bapa Ibn Taimiyah dengan kesilapan Ibn Taimiyah yang direka-reka oleh musuh Islam dan akhirnya K.H. Sirajuddin menuduh Ibn Taimiyah sombong hanya kerana tidak pernah berhenti memerangi bid'ah dan khurafat.
Penjelasan (3)
Kalau orang-orang yang berfahaman seperti K.H. Sirajuddin mampu meneliti dan mengkaji semua kitab-kitab hasil tulisan Syeikhul Islam Ibn Taimiyah, pasti mereka merasa malu kerana pada hakikatnya Ibn Taimiyahlah salah seorang yang telah mempertahankan, memperjuangkan dan mengimarahkan (menghidupkan) semula ajaran-ajaran sebenar para Imam yang empat.
Para pengikut mazhab-mazhab tersebut hanya mendakwa mengikut mazhab yang diakuinya, tetapi rata-rata hanya bertaklid, menerima dan mengamalkan pendapat para ulama yang menasabkan ajarannya kepada mereka (imam mazhab yang empat), sedangkan pada hakikatnya mereka bukan bermazhab dengan sang Imam kerana terlalu banyak meninggalkan, menentang dan melanggar fatwa si Imam.
Contohnya, pengikut mazhab Syafie bermati-matian mengaku sebagai bermazhab dan bertaklid dengan Imam Syafie, tetapi ternyata (seperti Sirajuddin salah seorang dari mereka) tidak secara langsung dan mungkin tanpa disedarinya telah menentang Imam Syafie. Misalnya, Imam Syafie dan Imam Ibn Taimiyah menentang khurafat tariqat sufi falsafi, tasawuf dan tariqat kebatinan sebagaimana kenyataan dari Imam Syafie:
اَلتَّصَوُّفُ مَبْنِيٌّ عَلَى الْكَسَلِ وَلَوْ تَصَوَّفَ رَجُلٌ اَوَّلَ النَّهَارِ لَمْ يَاْتِ الظُّهْرَ اِلاَّ وَهُوَ اَحْمَقُ.
"Tasawuf dibina di atas kemalasan, jika sekiranya seseorang itu menganut tasawuf di awal siang (pagi), tidak akan sempat sampai ke waktu Zuhur, dia sudah jadi bodoh (biul/goblok)".[18]
نْ يَدِيْنُ بِهَذَا (التَّصَوُّف) فَهُوَ زِنْدِيْقٌ اَوْ بِتَعْبِيْرٍ اَدَقٍّ صُوْفِيّ فَالصُّوْفِيُّ مَرَادِفَةٌ لِكُلِّ مَا يُنَاقِضُ الاِيْمَان الْحَق.
“Sesiapa yang menganut agama ini (sufi) maka dia seorang yang zindik atau dengan kata lain dia adalah sufi yang zindik, maka fahaman sufi samalah seperti setiap fahaman yang menentang keimanan yang hak”.
Imam Syafie amat benci kepada kezindikan sufi lalu beliau berkata:
“Saya lari meninggalkan Kota Basrah kerana di sana terdapat golongan zindik (sufi/tasawuf), mereka mengerjakan sesuatu yang baru yang mereka sebut dengan tahlilan”.
Berkata Hasan al-Basri rahimahullah:
أما عَلِمْتَ اَنَّ اَكْثَرَ اَصْحَابُ النَّارِ اَصْحَابُ اْلاَكْسِيةِ ؟ (اَلتَّصَوُّفِ).
"Tidakkah engkau ketahui sesungguhnya kebanyakan penghuni neraka ialah penganut sufi/tasawuf?".[19]
Tidakkah K.H. Sirajuddin dan mereka yang sefahaman dengannya dapat menerima hakikat kenyataan Imam Syafie ini. Imam Syafie dengan tegas mengharamkan akidah dan pengamalan sufi/tawasuf?
Tuduhan K.H. Sirajuddin (4)
Seterusnya menurut tuduhan K.H. Sirajuddin Abbas: Seolah-olah ia (Ibn Taimiyah rahimahullah) mengatakan bahawa ia sahajalah yang berpegang kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul, sedang ulama-ulama yang terdahulu daripadanya dianggap penganut khurafat dan bid'ah.
Penjelasan (4)
Tuduhan K.H. Sirajuddin yang keterlaluan ini sama sekali tidak berasas, kerana kitab-kitab besar hasil tulisan Syeikhul Islam Ibn Taimiyah terutamanya yang terhimpun dalam kitab seperti "Majmu' Fatawa" yang berjumlah 37 jilid dipenuhi dengan nukilan qaul-qaul (fatwa-fatwa) para ulama terdahulu seperti Syafie, Maliki, Hanafi, Hambali dan termasuklah dari para ulama muktabar dari kalangan ulama akidah, ahli tafsir dan para ulama hadis. Sesiapa yang telah membaca dan merujuk kepada kitab-kitab Ibn Taimiyah tidak akan menafikan hakikat dan kenyataan ini.
K.H. Sirajuddin ternyata membuat tuduhan dan fitnah sebelum mengenal, mengetahui, memahami dan memutalaah (mengkaji) kitab-kitab akidah hasil tulisan Syeikh Ibn Taimiyah. Ini adalah suatu kesilapan dan aib yang besar. Amat perlu kita ketahui bahawa apabila seseorang ulama menegah dan banyak memperkatakan kemungkaran bid’ah dan kefasikan yang berlaku di zamannya, ini bukanlah bermakna semua ulama di zaman itu telah dibid’ahkan atau dianggap fasik oleh ulama tersebut. Maka itulah sebenarnya yang dilakukan oleh Ibn Taimiyah rahimahullah.
Tuduhan K.H. Sirajuddin (5)
K.H. Sirajuddin menuduh bahawa Ibn Taimiyah memaklumkan perlawanan (penentangannya) kepada orang-orang Islam yang menganut dan bertaqlid dalam furu' syariat kepada mazhab yang empat. Kononnya menurut K.H. Sirajuddin lagi bahawa ia (Ibn Taimiyah) menganjurkan agar setiap orang berijtihad sendiri.
Penjelasan (5)
Pada hakikatnya bukan Syeikhul Islam Imam Ibn Taimiyah seorang sahaja yang melarang orang yang berakal, berilmu, beriman dan bertakwa dari bertaqlid buta kepada mana-mana Imam mazhab yang ada, tetapi semua ulama Ahli Sunnah wal-Jamaah yang bermanhaj Salaf as-Soleh termasuk Imam Syafie, Maliki, Hanafi, Hambali, Sufiyah ath-Thauri dan yang lain-lainnya semua mereka melarang dari bertaqlid buta. Mereka telah menjelaskan:
قَالَ اْلاِمَامُ الشَّـافِعِيُّ رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى : كُلُّ مَا قُلْتُ وَكَانَ عَنِ النَّبِيِّ صَـلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خِلاَفُ قَوْلِيْ مِمَّا يَصِحْ ، فَحَدِيْثُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَوْلَى وَلاَ تُقَلِّدُوْنِيْ.
"Berkata Imam Syafie rahimahullah Ta'ala: Setiap apa yang telah aku katakan dan ada perkataanku itu yang bertentangan dengan (hadis) yang sahih, maka hadis Nabi sallallahu 'alaihi wa-sallam adalah lebih diutamakan dan janganlah kamu sekalian bertaqlid denganku".[20]
وَقَالَ اَيْضًا : مَنْ قَلَّدَ مُعَيَّنًا فِى تَحْرِيْمِ شَيْءٍ اَوْ تَحْلِيْلِهِ وَقَدْ ثَبَتَ فِى الْحَدَيْثِ الصَّحِيْحِ عَلَى خِلاَفِهِ وَمَنْعِهِ تَقْلِيْدِ عَنِ الْعَمَلِ بِالسُّنَّةِ فَقَدْ اتِّخَذَ مَنْ قَلَّدَهُ رَبًّا مِنْ دُوْنِ اللهِ تَعَالَى.
“Imam as-Syafie berkata lagi: Sesiapa yang bertaqlid pada sesuatu dalam pengharaman sesuatu atau penghalalannya sedangkan telah nyata hadis sahih yantg bertentangan dengannya dan menegah dari bertaqlid kerana diperintahkan (diwajibkan) beramal dengan sunnah, maka dia telah mengambil orang yang ditaqlidkan itu sebagai Tuhan selain Allah Subhanahu wa-Ta'ala".[21]
قَالَ اْلاِمَامُ اَحْمَدُ بْنُ حَنْبَل رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى : لاَ تُقَلِّدْ دِيْنَكَ اَحَدًا مِنْ هَؤُلاَءِ مَا جَاءَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَخُذْ بِهِ ، ثُمَّ التَّابِعِيْنَ بَعْدَ الرَّجُلِ فِيْهِ مُخَيَّرٌ.
"Berkata Imam Ahmad bin Hambal: Dalam agamamu janganlah engkau bertaqlid dengan sesiapapun dari mereka-mereka. Apa yang datang dari nabi sallallahu 'alaihi wa-sallam maka ambillah olehmu, kemudian ambil dari para tabiin, adapun orang-orang yang sesudahnya diberi pilihan sama ada diambil atau ditinggalkan".[22]
قَالَ اْلاِمَامُ اَحْمَدُ : لاَ تُقَلِّدُونِيْ وَلاَ مَالِكًا وَلاَ اَبَا حَنِيْفَةً وَلاَ الشَّافِعِي وَلاَ اْلاَوْزَعِيْ وَلاَ الثَوْرِيِّ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالَى وَخُذْ مِنْ حَيْثُ اَخَذُوْا.
"Janganlah kamu bertaqlid kepadaku, janganlah bertaqlid kepada Malik, Abu Hanifah, Syafie, Auzaii dan Thauri rahimahumullah Ta’ala. Ambillah dari mana (atau sebagaimana) mereka mengambil".[23]
قَالَ ابْنُ حَزَمُ : اِنَّ الْفُقَهَاءَ الَّذِيْنَ قلدُّوْا مبطلوْنَ لِلتَّقْلِيْدِ وَاَنَّهُمْ نُهُوْا اَصْحَابَهُمْ عَنْ تَقْلِيْدِهِمْ ، وَكَانَ اَشَدُّهُمْ فِى ذَلِكَ الشَّافِعِي.
"Berkata Ibn Hazam: Sesungguhnya para fukaha yang menjadi ikutan mereka membatalkan pentaqlidan kepada mereka dan sesungguhnya mereka menegah para pengikutnya dari bertaqlid kepada mereka. Dan yang paling kuat menentang (perbuatan bertaqlid) ialah as-Syafie".[24]
وَقَالَ عَلِيُّ حَسَنُ بْنُ عَبْدُ الْحَمِيْد : وَمَنْ لَمْ يُفرِق التَّقْلِيْدِ لَمْ يَكُنْ لِعِلْمِهِ كَثِيْرُ فَائِدَةٍ.
"Berkata Ali Hasan bin Abdul Hamid: Sesiapa yang tidak meninggalkan taqlid maka pada ilmunya tidak akan memberi banyak faedah".[25]
قَالَ سَنَدُ بْنُ عَنَانُ رَحِمَهُ اللهُ : اعْلَمْ اَنَّ مُجَرَّدَ اْلاِقْتِصَارِ عَلَى مَحْضِ التَّقْلِيْدِ لاَ يَرْضَى بِهِ رَجُلٌ رَشِيْدٌ وَاِنَّمَا هُوَ شَاْنُ الْجَاهِلِ الْبَلِيْدِ اَوْ الْغَبِيِّ الْعَنِيْدِ.
"Berkata Sanad bin Anan rahimahullah: Ketahuilah sesungguhnya hanya dengan mengambil jalan mudah sehingga mendorong bertaqlid adalah tidak digemari oleh seorang lelaki yang bijaksana. Sesungguhnya (bertaqlid) adalah cara seorang yang bodoh lagi bebal dan si tolol yang keras kepala".[26]
اَجْمَعَ النَّاسُ عَلَى اَنَّ الْمُقَلِّدَ لَيْسَ مَعْدُوْدًا مِنْ اَهْلِ الْعِلْمِ وَاَنَّ الْعِلْمَ مَعْرِفَةُ الْحَقِّ بِدَلِيْلِهِ.
"Manusia telah sepakat bahawa para muqallid tidak terhitung sebagai kalangan ahli ilmu, bahawasanya ahli ilmu mengenali kebenaran melalui dalilnya".[27]
Kalau dibaca kitab-kitab hasil tulisan Syeikhul Islam Ibn Taimiyah, tidak akan terdapat walaupun satu kenyataan atau kaul dari Ibn Taimiyah yang menganjurkan agar semua orang berijtihad terutamanya orang awam yang tidak berilmu. Malah Ibn Taimiyah mensyaratkan beberapa syarat kepada mereka yang mahu berijtihad sebagaimana juga yang disyaratkan oleh Imam Syafie rahimahullah dan para imam yang lain, maka bagaimana K.H. Sirajuddin boleh membuat tuduhan palsu seperti ini?
Tuduhan K.H. Sirajuddin (6)
Menurut tuduhan dan fitnah K.H. Sirajuddin Abbas yang seterusnya bahawa kononnya Syeikh Ibn Taimiyah telah mengatakan:
"Duduknya Tuhan di atas ‘Arasy sama dengan duduknya Ibn Taimiyah di atas kursinya dan turunnya Tuhan dari langit sama seperti turunnya Ibn Taimiyah dari mimbar dan Tuhan itu dilihat (di sebelah) atas, boleh ditunjuk dengan anak jari ke atas”.
Penjelasan(6)
Tuduhan K.H. Sirajuddin sebagaimana yang diungkapkan di atas diulang berkali-kali, seolah-olah supaya ianya diberi perhatian oleh pembaca. Namun, K.H. Sirajuddin tidak berhati-hati dan tidak ilmiyah dalam penukilannya sehingga menjadi tuduhan palsu dan fitnah yang keterlaluan serta diada-adakan. Apa yang diketengahkan oleh beliau hanyalah tuduhan yang merujuk kepada buku "Rahlah Ibnu Bathuthah".
Menurut K.H. Sirajuddin (kononnya) Ibnu Bathuthah mendengar dan melihat sendiri kejadian Ibn Taimiyah berkata dan melakukan sebagaimana yang didakwakannya, iaitu: "Turunnya Tuhan sama seperti turunnya beliau dari mimbar".
Ada dua alasan yang kuat untuk membantah, menolak dan membatalkan tuduhan K.H Sirajuddin yang penuh dengan penipuan dan fitnah ini, iaitu:
Pertama: Memang Ibn Taimiyah sehingga ke hari ini masih dituduh sebagai Penyerupa Allah dengan makhlukNya atau Mujassimah, sedangkan terlalu banyak bukti penentangan Ibn Taimiyah terhadap kaum Musyabbihah dan Mujassimiyah sebagaimana penolakan beliau terhadap golongan Qadariyah, Jahmiyah, Muktazilah.[28] Amat mustahil orang yang menentang kaum-kaum yang sesat seperti Ibn Taimiyah akan menerima fahaman sesat yang sangat ditentang dan dibencinya.
Sebenarnya Ibnu Bathutah tidak pernah mendengar malah tidak pernah menghadiri majlis-majlis ilmu yang disampaikan oleh Ibn Taimiyah. Menurut catitan sejarah, sampainya Ibnu Bathuthah di Damsyik pada hari Khamis 9hb Ramadan 727H. Ibn Taimiyah dimasukkan ke penjara Damsyik pada awal bulan Sya'ban ditahun yang sama (727H). Tercatit dalam sejarah bahawa Ibn Taimiyah wafat pada malam Ithnin 20hb Zulqaidah 728H.
Timbul persoalan, bagaimana Ibnu Bathutah boleh melihat Ibn Taimiyah menyampaikan ilmu di atas mimbar Jamek dan boleh mendengar majlis ilmunya sedangkan setibanya Ibnu Bathutah di Damsyik Ibn Taimiyah telah dimasukkan ke dalam penjara?[29]
Kedua: Ibn Taimiyah tidak pernah menyampaikan ilmunya di atas mimbar Jamek sebagaimana yang dinyatakan oleh Ibnu Bathutah: "Aku menghadiri majlisnya pada hari Jumaat, dia sedang menyampaikan ilmunya di atas mimbar Jamek". Malah Ibn Taimiyah tidak pernah berkhutabah di atas mimbar walaupun Ibnu Bathuthah mendakwa: "Dia turun dari tangga-tangga mimbar".
Ketiga: Kebiasaannya Ibn Taimiyah hanya duduk di atas kerusi semasa beliau menyampaikan pelajarannya.
Keempat: Sebenarnya Ibnu Bathutah tidak pernah menulis tentang pelayarannya dengan tangannya sendiri.[30]
K.H. Sirajuddin tidak teliti dalam tuduhannya kepada Ibn Taimiyah, contohnya beliau menuduh Ibn Taimiyah menyerupakan istiwa Allah sebagaimana duduk bersilanya beliau, sedangkan sama sekali tidak terdapat di dalam kitab-kitab Ibn Taimiyah yang memaknakan istiwa sebagaimana yang didakwa oleh K.H Sirajuddin.
Dalam hal ini K.H. Sirajuddin tidak menyedari malah beliau menolak kenyataan dan fatwa para ulama Salaf as-Soleh bahawa Allah itu bertempat sebagaimana yang dijelaskan oleh Syeikhul Islam Ibn Taimiyah.
Para ulama Salaf sepakat/sependapat dan seakidah dengan Ibn Taimiyah iaitu: "Allah bersemayam di atas ArasyNya dan ArasyNya berada di atas langit". Ini bermakna Allah bertempat iaitu di langit sebagaimana penjelasan para ulama Salaf as-Soleh yang berikut ini:
(1). Berkata al-Imam Abu Hanifah rahimahullah:
"Sesiapa mengingkari sesungguhnya Allah berada di atas langit, maka sesungguhnya dia telah kafir. Adapun terhadap orang yang tawaqquf (diam) dengan mengatakan: Aku tidak tahu apakah Tuhanku di langit atau di bumi? Berkata al-Imam Abu Hanifah: Sesungguhnya dia telah kafir kerana Allah telah berfirman: Ar-Rahman di atas Arasy al Istiwa"[31].
(2). Berkata Al-Imam Malik rahimahulla:
"Allah berada di atas langit sedangkan ilmuNya di tiap-tiap tempat (di mana-mana), tidak tersembunyi sesuatupun daripadaNya"[32]
(3). Berkata al-Imam as-Syafie rahimahullah:
"Sesungguhnya Allah di atas ArasyNya dan ArsyNya di atas langit"[33]
(4). Berkata al-Imam Ahmad Bin Hambal rahimahullah:
"Benar! Allah di atas Arasy-Nya dan tidak sesiapapun yang tersembunyi daripada pengetahuanNya"[34]
(5). Athar Imam Ibnu Khuzaimah pula menjelaskan:
"Barangsiapa tidak menetapkan Allah Ta'ala di atas ArasyNya dan Allah istiwa di atas tujuh langitNya, maka ia telah kafir dengan Tuhannya".[35]
(6). Athar Syaikhul Islam Abdul Qadir al-Jailani rahimahullah menjelaskan:
"Tidak boleh mensifatkanNya bahawa Ia berada di tiap-tiap tempat. Bahkan (wajib) mengatakan: Sesungguhnya Ia di atas langit (yakni) di atas Arasy sebagaimana Ia telah berfirman: Ar-Rahman di atas Arasy, Ia beristiwa.[36] Dan patutlah memutlakkan sifat istiwa tanpa takwil, sesungguhnya Allah istiwa dengan ZatNya di atas Arasy. KeadaanNya di atas Arasy disebut pada tiap-tiap kitab yang Ia turunkan kepada tiap-tiap Nabi yang Ia utus tanpa (bertanya): Bagaimana caranya (Allah istiwa di atas Arasy-Nya)?"[37]
(7). Berkata al-Imam Abul Hasan al-Asy`ari rahimahullah:
"Di atas langit-langit itulah Arasy, maka tatkala Arasy berada di atas langit-langit Allah berfirman: Apakah kamu merasa aman terhadap Zat yang berada di atas langit? Sesungguhnya Ia istiwa (bersemayam) di atas Arasy yang berada di atas langit dan tiap-tiap yang tinggi itu dinamakan 'As-Sama (langit), maka Arasy berada di atas langit. Bukanlah yang dimaksudkan di dalam firman: Apakah kamu merasa aman terhadap Zat yang berada di atas langit? Bukan di seluruh langit! Tetapi ArasyNya yang berada di atas langit."[38]
Dari hujah-hujah di atas amatlah jelas, bahawa larangan mentakwil terhadap sifat-sifat Allah oleh Syeikhul Islam Ibn Taimiyah, ianya nyata disepakati oleh seluruh ulama muktabar dari kalangan Imam-Imam mazhab fikeh dan akidah yang antara mereka ialah Maliki, Hambali, Hanafi, as-Syafie, Abu Hasan al-Asy’ari, Ibn Khuzaima dan lain-lainnya tetapi malangnya ditentang habis-habisan oleh K.H. Sirajuddin Abbas dan orang-orang yang sehaluan dengan beliau.
(8). Berkata pula Imam Ibnu Khuzaimah (dari kalaangan ulama as-Syafieyah):
"Kami beriman dengan khabar dari Allah Jalla wa-'Ala sesungguhnya Pencipta kami Ia beristiwa (bersemayam) di atas ArasyNya. Kami Tidak mengganti/mengubah kalam (firman) Allah dan kami tidak akan mengucapkan perkataan yang tidak pernah dikatakan (Allah) kepada kami sebagaimana (perbuatan kaum) yang menghilangkan sifat-sifat Allah seperti golongan Jahmiyah yang pernah berkata: Sesungguhnya Dia istawla (menguasai) ArasyNya bukan istiwa! (bersemayam).
Maka mereka telah mengganti perkataan yang tidak pernah dikatakan (Allah) kepada mereka, ini menyerupai perbuatan Yahudi tatkala diperintah mengucapkan: Hithtatun (Ampunkanlah dosa-dosa kami), tetapi mereka mengucapkan (mengubah): Hinthah (makanlah gandum)! Mereka (kaum Yahudi) telah menyalahi perintah Allah Yang Maha Agung dan Maha Tinggi maka seperti itulah (perbuatan kaum) Jahmiyah".[39]
Dikhuatiri orang-orang yang mengubah Kalam Allah telah mewarisi perangai, perbuatan dan sikap orang-orang Yahudi. Yang paling ditakuti pula jika ditimpakan nasib yang sama sebagaimana nasib yang menimpa kepada kaum Yahudi di akhirat kelak, Na’uzubillah! Oleh itu, jauhilah sikap, perbuatan dan akidah Yahudi kerana Nabi Muhammad sallallahu ‘alaihi wa-sallam bersabda:
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Sesiapa yang menyerupai sesuatu kaum, maka dia tergolong dari kaum itu”.
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْب ، ثَبِّتْ قَلْبَنَا عَلَى دِيْنِكَ وَطَعَاتِكَ
“Wahai Yang Membolak-balikkan hati! Tetapkanlah hati kami di atas agamaMu dan ketaatan kepadaMu”.
MARAJI:
[1]. Lihat: Al-Fatawa al-Kubra, Jld. 1. (muqaddimah). Qaddama lahu wa-'arrafa bihi: Muhammad Makhluf. Dar al-Ma'rifah. Beirut.
[2]. Ibid.
[3]. Lihat: Muqaranah baina al-Gazali wa Ibn Taimiyah. Hlm. 22. Dr.Muhammad Rasyad Salim. Cetakan. 1395H -1975M. Ad-Dar as-Salafiyah.
[4]. Ibid.
[5]. Lihat: Keterangan Sirajuddin dalam bukunya "I'itiqad AhlussunahWal-Jamaah" hlm. 262-263.
[6]. Lihat: Fathul Bari. Jld. Hlm. 406. Ibn Hajar al-Asqalani. Dar Ihya at-Turath al-Arabi. Beirut.
[7]. Lihat: Iktiqad Aimatul hadis (اعتقاد ائمة الحديث) hlm. 50-51. Ismaili.
[8]. Lihat: Iktiqad Aimmah al-Arba'ah Abi Hanifah wa Malik wa as-Syafie wa Ahmad. Hlm. 46-47. Cetakan pertama. 1412 -1992. Darul'Asimah Saudi Arabia.
[9]. Lihat: Iktiqad Qimmah al-Arba'ah, Abi Hanifah, Malik, Syafie wa-Ahmad. Hlm. 40.
[10].Ibid. Hlm. 42.
[11].Ibid. Hlm. 47.
[12].H/R Bukhari (1141), Muslim (758), Abu Daud (4733), Turmizi (4393),Ibn Majah (1366) dan Ahmad (1/346).
[13].Lihat: As-Sunnah. Hlm. 5. Abdullah bin al-Imam Ahmad.
[14].H/R Muslim dan Abi Daud.
[15].H/R Bukhari dan Muslim.
[16].Lihat: Syarah al-Akidah al-Wasitiyah. Hlm. 17-19, Ibn Taimiyah.Cetakan ketiga. al-Maktabah as-Salafiyah, Madinah al-Munawarah.Saudi Arabia.
[17].Lihat: Mujmal Iktiqad Aimatus Salaf. Hlm. 86, Dr. Abdullah binAbdulmuhsin at-Turky. Cetakan pertama. 1413 -1993. Muassasah ar-Risalah. Beirut.
[18].Lihat: Bahaya Tarikat sufi/Tasawuf Terhadap Masyarakat. Hlm. 30. Rasul Dahri. Cetakan pertama. 1998. Malaysia. Lihat: Talbisu al-Iblis. hlm. 159. Ditahqiq dan ditashih oleh paraulama al- Azhar as-Syarif kali kedua pada 1368H. Dar al-Kutub al-Ilmiyah. Beirut.
[19].At-Tasawuf. Hlm 21. Dr. Mustafa Hilmi. Dar ad-Dakwah. Al-Iskandariah.
[20].Lihat: اعلام الموقعين (17) Ibn Qaiyim al-Jauzi.
[21]:Lihat: Hal Muslim Mulzimun biittiba'i Mazhabun Mu'ayanun minalMazhaabil al-Arbah. Hlm. 69. Muhammad Sultan al-Maksumi
[22]:Lihat: Masail al-Imam Ahmad. Diriwayatkan oleh Abu Daud. Hlm.277.
[23].Ibid.
[24].Lihat: Al-Ahkam fi Usul al-Ahkam. (118). Tahqiq oleh AhmadMuhammad Syakir. Cetakan kedua. Dar al-Afaq al-Jadidah. Beirut.
[25].Lihat: 'Audah Ila Sunnah. Hlm. 36.
26. Lihat: Hal Muslim Mulzimun Fiitiba'i Mazhabun Mu'aiyan MinMazhabil Arba’a. Hlm. 70. Muhammad Sultan al-Maksumi.
[27].Lihat: Hal Muslim Mulzamun Fiittiba'i Mazhabun Mu'ayan MinalMazahabil Arba’. Muhammad Sultan al-Maksumi.
[28].Lihat: Syarah Hadis Nuzul. Hlm. 2. Zahir as-Syawisy. Cetakankelima. 1397H-1977M. Al-Maktab al-Islami. Beirut.
[29].Ibid. Hlm. 2.
[30].Ibid.
[31].Lihat: Mukhtasar al-Ulum, Hlm. 137. Imam Az-Zahabi. Tahqiq al-Albani.
[32].Ibid. Hlm. 140.
[33].Ibid. 179.
[34].Ibid. 188.
[35].Lihat: Ma'rifah Ulum al-Hadis. Hlm. 84. Riwayat yang sahih, dikeluarkan oleh al-Hakim.
[36].Surah Taha, 5.
[37].LIhat: Fatawa Hamwiyah Kubra. Hlm. 84.
[38].Lihat: Al-Ibanah an-Usul ad-Dianah. Hlm. 48.
[39].Lihat: Kitabut Tauhid fi ithbatis Sifat. Hlm. 101. Ibnu Khuzaimah.
sumber: http://rasuldahri.tripod.com/articles/kka1_satu.htm
Selengkapnya...